Diphtheria


Definisi dan Gejala

Diphtheria adalah penyakit bakteri akut yang terutama menyerang tonsil, faring, laring, hidung dan kadang menyerang selaput lendir atau kulit bahkan kadang menyerang konjungtiva atau vagina. Terdapat lesi yang tampak sebagai suatu membrane asimetrik keabu-abuan yang dikelilingi dengan daerah inflamasi. Tenggorokan akan terasa sakit diikuti dengan kelenjar limfe yang membesar dan melunak. Pada kasus berat dan sedang akan ditandai dengan pembengkakan dan oedema di lehar dengan pembentukan membrane pada trachea secara kestensif dan dapat terjadi penyumbatan jalan nafas.

Difteri pada hidung biasanya gejala ringan dan kronis dengan salah satu rongga hidung tersumbat dan terjadi ekskoriasi. Toksin juga dapat menyebabkan myocarditis dengan heart block dan kegagalan jantung kongestif yang progresif, timbul satu minggu setelah gejala klinis difteri. Gejala lain adalah neuropati yang mirip dengan Guillain Barre Syndrome. Tingkat kematiannya adalah 5-10%.

Diagnosa Penyakit
Diagnose diphtheria didasarkan pada temuan adanya membrane asimetris keabu-abuan khususnya bila menyebar ke ovula dan palatum molle pada penderita tonsillitis, pharingitis, atau imfadenopati leher atau adanya discharge serosanguinus dari hidung. Diagnosa juga ditunjang dengan pemeriksaan bakteriologis terhadapa sediaan yang diambil dari lesi.

Segera setelah didiagnosa, penderita diphtheria harus secepatnya diberikan pengobatan yang tepat dengan antibiotika dan pemberian antitoksin. Pengobatan ini dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratoriumnya negative.

Penyebab Penyakit:
Penyebab penyakit ini adalah Corynebacterium diphtheria.

Distribusi Penyakit:
Diphtheria muncul terutama pada bulan-bulan dimana termperatur lebih dingin di Negara subtropics dan banyak menyerang anak-anak usia di bawah 15 tahun yang belum diimunisasi. Tidak jarang juga ditemui pada kelompok remaja yang belum terimunisasi.

Reservoir:

Reservoir penyakit ini adalah manusia.

Cara Penularan:

Diphtheria ditularkan melalui kontak dengan penderita atau carrier. Sangat jarang penularan melalui peralatan yang tercemar oleh discharge dari lesi penderita diphtheria. Susu yang tidak dipasteurisasi bisa berperan sebagai media penularan.

Masa Inkubasi:

Masa inkubasi diphtheria adalah 2 – 5 hari atau terkadang lebih lama.

Masa Penularan:
Masa penularannya adalah beragam, biasanya berlangsung dua minggu 2 – 4 minggu atau bahkan kurang. Penyakit ini ini tetap menular sampai tidak ditemukan lagi bakteri dari discharge dan lesi.

Kerentanan dan Kekebalan:

Bayi yang terlahir dari ibu yang memiliki imunitas biasanya memiliki imunitas juga, tapi bersifat pasif dan biasanya hilang sebelum bulan keenam. Imunitas juga bisa didapat setelah sembuh dari penyakit, tapi imunitas ini pun tidak lah seumur hidup.

Upaya Pencegahan:
  • Penyuluhan masyarakat
  • Imunisasi aktif secara massal dengan Diphtheria toxoid. Untuk jadwal imunisai dan cara pemberian imuniasi bisa merujuk ke instansi kesehatan terdekat.
  • Pemberian imunisasi kepada para petugas kesehatan (imunisasi dasar dan booster setiap 10 tahun.

Penanganan Penderita:
  1. Melaporkan kepada petugas kesehatan setempat.
  2. Isolasi ketat dilakukan terhadap penderita diphtheria pharyngeal
  3. Desinfeksi serentak terhadap semua barang yang dipakai oleh/untuk penderita dan barang-barang yang tercemar discharge penderita.
  4. Karantaina bagi penderita dewasa yang pekerjaannya berhubungan dengan pengolahan makanan atau mereka yang dekat dengan anak-anak yang belum diimunisasi.
  5. Manajemen kontak: semua yang kontak dengan penderita harus dilakukan kultur dari sample hidung dan tenggorokan.
  6. Investigasi kontak dan sumber infeksi
  7. Pengobatan spesifik: penderita diphtheria yang didasarkan pada gejala klinis maka antitoksin harus diberikan setelah sample diambil untuk pemeriksaan bakteriologis tanpa harus menunggu hasilnya.

Penanggulangan Wabah:

Imunisasi sebaiknya dilakukan seluas mungkin terhadap kelompok yang mempunyai risiko terkena diphtheria: bayi, anak-anak, pra sekolah dan dewasa. Lakukan imuniasi sebulan kemudian untuk sekurang-kurangnya mendapatkan dua dosis.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons